Páginas

Selasa, 09 April 2013

Metode TURUNNYA WAHYU ALLAH KEPADA NABI MUHAMMAD SAW.

Bagaimana keadaan Nabi Muhammad saw. saat menerima wahyu atau risalah Allah swt? Terdapat beberapa metode penyampaian wahyu, sebagai sumber informasi ilahiyah untuk disampaikan melalui da’wah Rosulullah saw. “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu seperti Kami telah mewahyukan kepada Nuh & nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub & anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun & Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS.An-Nisa’[4]:163)

Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa tingkatan metode turunnya wahyu Al Qur’an kepada kekasih-Nya itu.

1. Melalui mimpi yang hakiki (terbayang dengan jelas). Ini dicontohkan pada beberapa permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam. Perantaraan mimpi ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim ‘Alayhis Sallam agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diabadikan Allah swt: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [QS.Ash Shaffat/37:102].

2. Apa yang disusupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa terlihat. Seperti disampaikan Nabi saw. dalam hadits berikut, “Sesungguhnya Ruhul Qudus menghembuskan ke dalam diriku bahwa suatu jiwa tidak mungkin mati sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rizki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.” (HR.Bukhari)

3. Malaikat muncul di hadapan Nabi saw. dalam rupa seorang laki-laki, berbicara langsung hingga Nabi bisa memahami maksud pembicaraan tersebut. Dalam tingkatan ini terkadang para sahabat juga bisa melihat penampakan tersebut. Seperti dikenal dalam kisah “hadits Jibril” tentang makna Iman, Islam, dan Ihsan, di mana lelaki yang datang itu bisa disaksikan, padahal ternyata ia adalah malaikat Jibril (HR.Muslim).

4. Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan cara penyampaian wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi saw. hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat walaupun saat itu cuaca sangat dingin, bahkan hewan tunggangan yang beliau naiki tak kuasa berderum ke tanah. Dalam Shahih Bukhari disebutkan wahyu seperti ini juga pernah datang saat Nabi saw. sedang meletakkan kakinya ditopang badan Zaid bin Tsabit ra. sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.

5. Nabi saw. bisa melihat malaikat dalam wujud aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepadanya. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An Najm ketika peristiwa Mi’raj. "Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar" (QS.An-Najm:13-18). Malaikat Jibril juga pernah mendatangi Nabi saw. dalam rupa yang sesungguhnya pada masa fatrah (periode kevakuman wahyu) setelah turunnya QS.Al ‘Alaq.

6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada Rosulullah di atas lapisan-lapisan langit pada malam Isra’ Mi’raj, berisi kewajiban sholat. "Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haqq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Thaha:14)

7. Allah berfirman secara langsung dengan Nabi saw. tanpa menggunakan perantara, sebagaimana keadaan ini juga pernah dialami Nabi Musa as. dalam perjalanannya mencari Tuhan. " …Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." [QS.An Nisaa`/4 : 164].

Sebagian pakar Siroh Nabawiyyah menambahi dengan tingkatan wahyu yang kedelapan, yakni Allah swt. berfirman secara langsung di hadapan Nabi Muhammad saw. tanpa ada tabir (tersingkapnya hijab antara manusia dengan Tuhannya). Namun pendapat ini banyak dipertentangkan oleh ulama salaf maupun khalaf sehingga dianggap pendapat yang kurang rajih. “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun (yang bisa mengaku) bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali melalui perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan seizin-Nya melalui cara apapun yang Dia Kehendaki.” (QS. Asy-Syura [42] : 51)

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate