Páginas

Selasa, 24 April 2012

PERCEPATAN NILAI TAMBAH KAKAO, BERSAMA ANALISANYA, PEMASARAN DAN KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN


PERCEPATAN NILAI TAMBAH KAKAO, BERSAMA ANALISANYA,
PEMASARAN DAN KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN

Raharjo, Giripurwo, Girimulyo, Kulon Progo



BAB I

A.      PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia mayoritas petani merupakan aset bangsa yang sangat bernilai untuk mengembangkan kepribadian bangsa.Kearifan-kearifan masa lampau sebenarnya sangat relevan dikembangkan menjadi sebuah teknologi sederhana yang mendukung permasalahan-permasalahan berbagai masalah negeri ini.
Berawal dari riset petani dengan model riset sederhana, untuk itulah melihat potensi lokal dengan menciptakan teknologi dengan cara mengamati kondisi alam dan segala makhluk hidup di atasnya secara utuh dengan memperhatikan ruang dan waktu tertentu, mencoba meniru konsisten dengan membuat variasinya dan menemukan konsistensi baru dan mengembangkannya. Cara ini mudah, murah dikembangkan sendiri oleh petani, dapat disebut metode titen, tangkap, tulis atau baca, pahami, ciptakan.
Keanekaragaman bisa tercipta dan dikagumi di tempat terpencil yang belum dirusak manusia dan keseimbangan tercermin bagaimana memelihara semua mikroorganisme, tanaman, binatang dan terutama manusia yang jumlahnya semakin membebani lingkungan.
Terganggunya keseimbangan alam bisa murka.Belajarlah, mengerti dan meniru alam sedekat mungkin.Prinsip-prinsip itu dapat dilakukan, khususnya budidaya kakao mulai dari pembenihan sampai dengan pasca panen (pasar), analisanya dan keuntungan-keuntungannya dapat mendorong percepatan-percepatan dengan peremajaan pohon kakao, produksi kakao Kulon Progo masih jauh dari harapan.Rata-rata 450 kg/ha dari perhitungan standar minimal 1,1 ton / ha.
Diharapkan ke depannya, petani tidak perlu lagi menggunakan pupuk kimia (konvensional), karena dengan menggunakan pupuk organik ternyata dapat menghasilkan lebih baik, disamping menjaga kesuburan tanah / lahan pertanian.Juga hasil produksi tidak tercemari oleh zat-zat kimia yang terkandung dalam pupuk kimia maupun pestisida tidka ramah lingkungan.Tanpa harus mengeluarkan biaya banyak untuk membelinya.Selain itu mendatangkan manfaat bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

B.      KENDALA DAN PERMASALAHANNYA
·         Kendala yang ada, tanaman petani sudah berumur 18 tahun yang lalu ditanam tahun  1991 – 1992 ditambah lagi benih persilangan kurang baik kualitasnya, sehingga ada yang berbuah dan tidak dapat berbuah.
·         Kendalalain pengetahuan petani tentang budidaya kakao, khususnya pemeliharaan tanaman dari berbagai permasalahannya.
·         Kesulitan petani kakao belum menjadi penentu harga atas permintaan konsumen lokal maupun internasional karena keseragaman kualitas dan kuantitas belum terpenuhi, meskipun tetap berharap, sebagai usaha pokok untuk menopang hidupnya.
·         Keputusasaan petani kakao, berkaitan dengan kebijakan dirasakan tidak melibatkan petani dengan mempertimbangkan kehidupan petani ketika memutuskan sebuah kebijakan pertanian, kenyataan itu masih membekas dalam diri petani.

C.      POTENSI YANG DIMILIKI
·         Ada beberapa kemampuan dan kekuatan petani meski sering diabaikan dan mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Ada keyakinan bahwa pekerjaan sebagai petani adalah sebuah ibadah, seperti pekerjaan yang lain dan tetap tekun, semangat juang tinggi.
·         Perjuangan petani akhirnya terwadahi dalam Forum Komunikasi Petani Kakao Kulon Progo. Forum ini dapat memfasilitasi kepentingan petani dengan berbagai permasalahannya baik komunikasi dan informasi dalam lingkup kebijakan pertanian Kabupaten Kulon Progo dan lembaga non pemerintah.
·         Petani kakao akhirnya dapat mengatasi masalah dengan segala keterbatasannya, mampu mengorganisir dan memperjuangkan haknya, untuk mendapatkan anggaran yang layak bagi nasib petani.
·         Jumlah produk dari hasil panen petani kakao belum tergarap dengan benar, mulai dari budidaya sampai pemasaran bersama sehingga kontinuitas produk rendah.
·         Belum banyak petani / produsen melaksanakan pemasaran bersama untuk mengetahui kualitas dan mendata kuantitas kakao secara berkelanjutan / alami, karena dengan promosi produk menjadi dikenal konsumen.

D.      MAKSUD DAN TUJUAN
1.       Meningkatkan pemahaman petani dalam proses belajar budidaya kakao agar ada peningkatan produktivitas dan kualitas kakao.
2.       Meningkatkan peran petani terlibat dalam musrenbang di masing-masing wilayah sehingga kebutuhan petani mendapat prioritas dalam pembangunan pertanian.
3.       Meningkatkan peran petani untuk menjadi pemandu sekolah lapang di komunitasnya dan mengajak pemerintah dan lembaga non pemerintah untuk memfasilitasinya.
4.       Mendorong petani untuk mengembangkan dan membentuk forum-forum khusus yang membahas tentang kakao seperti KUB, dengan melestarikan benih sendiri. Hal ini akan meningkatkan posisi tawar petani terhadap pihak lain.
5.       Memberitahukan kepada petani produsen sekaligus mengenalkan pada konsumen, misal : pengusaha lokal, pemerintah dan perusahaan bahwa produk petani dapat dijadikan promosi, usaha agribisnis, pertanian organik, kemudian konsumen tertarik membeli dan selanjutnya menjadi pelanggan setia. Pada akhirnya harga jual kakao terdongkrak.


E.      SASARAN
1.       Mengenali konsumen didasarkan kelas sosial, tingkat pendidikan.
2.       Mengajak petani sebagai produsen / pelaku utama.
3.       Pelaku usaha sebagai pengusaha kakao produk organik dengan citra khas, jaminan keamanan, kesehatan dan halal.
4.       Pemerintah mau melindungi petani produsen kakao, dengan menyelenggarakan promosi dalam waktu tertentu, seperti ulang tahun instansi lazim diselenggarakan bazar dan pameran untuk mendorong pengunjung tertarik, puas dengan rasa dan harga terjangkau. Akhirnya pemerintah memberikan anggarannya untuk pemberdayaan.

BAB II
ANALISA USAHA TANI
PADA TANAMAN KAKAO

Pemasaran dan keuntungan-keuntungannya :
·         Mengatasi kemungkinan persaingan dalam meningkatkan laba.
·         Meningkatkan produktifitas kakao (tanpa harus menurunkan kualitas dan harga secara berkelanjutan/alami).
·         Menaikkan harga penjualan secara adil.
·         Melakukan (efisiensi produksi) terhadap biayanya.
·         Sesuaikan kualitas dengan mempertimbangkan kelas konsumen.
·         Permintaan pasar lokal dan internasional terus meningkat.

Potensi lahan perkebunan Kabupaten Kulon Progo salah satu komoditas perkebunan yang bisa menjadi andalan.Selain kelapa, yang menjadi perkebunan rakyat, kakao juga menjadi komoditas perkebunan sejajar menyumbang perekonomian rakyat.Di Kabupaten Kulon Progo luas lahan tanaman kakao hingga akhir tahun 2011 sebesar 3.398,53 ha, tersebar di sembilan kecamatan. Luas lahan paling besar di Kecamatan Kalibawang 985 ha, Girimulyo 621,61 ha, dan Kecamatan Samigaluh 285 ha. Total produksi kakao Kabupaten Kulon Progo 836 ton, dengan produktivitas 0,397 ton/ha yang masih di bawah standar produktivitas nasional 1,35 ton/ha dan ada juga wilayah Kokap juga memiliki potensi besar kakao dengan kondisi produk kakao yang potensial, namun banyak permasalahan di kualitas produk dan kuantitasnya. Maka sangat perlu kita perhatikan untuk menjaga keberlanjutan pemasaran kakao yang sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok tani “kakao” di Kabupaten Kulon Progo.
Saat ini permintaan produk kakao yang diproduksi secara berkelanjutan meningkat seiring meningkatnya permintaan terhadap tuntutan kualitas produk kakao.Kondisi pemasaran kolektif yang belum bisa maksimal, menyebabkan kondisi pasar kakao belum bisa menguatkan perekonomian petani, dimana posisi tawar kelayakan harga belum diperoleh karena penyediaan produk dengan kualitas yang beragam.
Selain produksi kakao kualitas beragam saat ini bermunculan dengan beragam standar dan regulasi teknis untuk perkebunan yang harus dipenuhi oleh produsen dan kelompok pemasaran agar diterima oleh pasar, baik tingkat lokal sampai internasional.Sehingga membutuhkan penguatan keberlanjutan produk dan kualitas yang diinginkan oleh konsumen.
Salah satu pengembangan kakao dilaksanakan sekolah lapang di Desa Giripurwo, Desa Banjarsari, Desa Purwosari, Desa Kebonharjo, Desa Sidoharjo.Sebagai awal gerakan intensifikasi yang difasilitasi oleh lembaga Lesman (Lestari Mandiri) dari Boyolali bekerjasama dengan gapoktan dan CO wilayah Kulon Progo serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kulon Progo.
Maka kami sebagai pengurus gapoktan serta teman dari lembaga Lesman menerima harapan-harapan dari petani kakao untuk mengadakan sekolah lapang diawali pada Oktober 2010 sampai rencana Desember 2012.
Peningkatan taraf hidup petani kakao perlu terus diupayakan. Salah satu yang ditempuh adalah dengan melakukan kajian usaha tani berwawasan agribisnis, sehingga petani siap menghadapi era pasar global, dengan memperkenalkan teknologi sederhana, mudah, murah dapat dilakukan secara mandiri (benih, pupuk, pestisida alami) dengan upaya tidak kalah penting penerapan teknologi pasca panen dan teknik budidaya, adanya pemanenan tepat waktu, fermentasi, pengeringan, penyimpanan dan pendistribusian, dan pemeliharaan serta perawatan secara periodik, baik penanganan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, pembuatan rorak. Pada kebun kakao yang baik, perlu terdapat pohon pelindung yang memadai : mulai dari awal tanam digunakan pelindung sementara, kalau sudah umur 3 – 4 tahun diperlukan pelindung pohon produktif, diharapkan produktivitas kakao meningkat dan mutu seragam akan memberikan harga premium.
Dari pengamatan dapat dihindari bahwa sistem monokultur dengan jenis kakao yang beragam sangat berpengaruh terhadap hama dan penyakit.
Potensi pengembangan tanaman kakao ada di 1600 kelomok tani se Kulon Progo di 12 kecamatan dengan sistem tanam tumpang sari.

BAHAN DAN METODE
Pengkajian dilaksanakan di Desa Giripurwo dan di Desa Banarsari dengan melibatkan petani wilayah desa yang sudah agak maju. Luas kebun yang dimiliki petani minimal 0,3 ha dengan sistem tumpang sari telah berproduksi dan berumur 3 – 4 tahun dalam kajian petani diberikan materi dan praktek demonstrasi pada tanaman kakao produktif yang tidak terawat, dengan perlakuan pemangkasan, pemupukan, pembuatan rorak dan pengendalian hama dan penyakit secara mandiri, dengan pohon pelindung yang memadai.
Bahan digunakan terdiri dari rumen untuk dibuat sebagai biostater, pupuk dari kotoran ternak, sisa kotoran pertanian.Pembuatan pestisida alami dari empon-empon yang tersedia di sekitar. Alat yang digunakan : gunting / pisau pangkas, gergaji, golok, sabit, plastik pembungkus, keranjang. Masing-masing petani diberikan penjelasan dengan materi khusus praktek, untuk pelaksanaan kegiatan. Pertama-tama pohon yang sudah rimbun (cabangnya saling bersentuhan) serta ranting kering, ranting balik dipangkas dengan memotong cabang tidak serasi, untuk menghindari hama dan penyakit. Pangkas ringan dilakukan antara lain wiwil, cabang pohon dipilih yang sehat dipelihara 3 cabang pokok, jarak 1 m antara pangkal dan batang pohon harus diwiwil ranting-rantingnya.
Tanaman kemudian diberikan pupuk kandang sudah fermentasi serta daun-daun ranting kering di sekitar tanaman kakao dimasukkan di lubang rorak yang sudah disiapkan dengan ukuran dalam 1 m dari permukaan tanah panjang 50 cm lebar 50 cm. jarak rorak dari pohon minimal menyesuaikan panjang ujung cabang pohon 1,5 – 2 m, dilakukan setiap tahun 2x pembuatan rorak dan penyiangan tiap 4 – 6 x satu tahun. Pengendalian hama dan penyakit diupayakan apabila musim hujan dilaksanakan setiap waktu dalam 1 minggu. Drainase pada lahan terasiring harus diperbaiki agar air tidak tergenang pada saat hujan.
Pada saat penyiangan diharapkan 6 kali setahun, sesuai dengan kondisi pertumbuhan rumput di lapangan. Setelah rutin pemangkasan cabang sekunder, ranting-ranting kering, daun rusak, tunas air, diwiwil. Lakukan pemupukan 1 pohon kakao 25 – 30 kg dengan pupuk kandang (2x setahun).Sedangkan petani tradisional biasanya perlakuan terhadap pemangkasan, pemupukan saja frekuensi tindakan tidak pernah dilakukan umumnya kalau ada waktu saja.
Cara pemangkasan, pemupukan, penyiangan, penyemprotan dengan pestisida secara periodik, maka pemanenan buah lebih mudah dan hasilnya banyak.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa usaha tani kakao dilakukan selama tahun 2010 – 2012 akan kami sajikan dengan total biaya yang diperlukan untuk pohon kakao pada usaha tani dengan penerapan teknologi sederhana di Desa Giripurwo dan petani tradisional.

Tabel untuk 100 pohon kakao
Uraian
Petani Tradisional
Petani dengan Teknologi
Pupuk dan pestisida
(2 ton + 120.000)
(800.000 + 120.000)
300.000
920.000
Upah 100 pohon


Pembuatan rorak
(5 hari x 30)
-
150.000
Penyiangan
(2 hari x 30.000)
-
60.000
Pemupukan
(2 hari x 30.000)
30.000
60.000
Pemangkasan
(3 hari x 30.000)
-
90.000
Jumlah pengeluaran
(Rp/100 pohon)
330.000
1.280.000
Hasil (kg/pohon)
62,5
280
Harga (Rp/kg)
20.000
20.000
Nilai jual
(Rp/100 pohon)
1.250.000
5.600.000
Keuntungan
(Rp/100 pohon)
920.000
4.320.000

Keterangan :
·         Taksiran pendapatan, berdasarkan harga kakao kering Rp 20.000/kg.
·         Petani dengan teknologi sederhana (di Desa Giripurwo) pohon kakao produktif mulai 4 – 20 tahun sebelumnya masih seperti pada tabel di atas pada umumnya (1 tahun – dapat panen 8 kali setiap tahun).
·         Selisih pendapatan petani tradisional dengan petani menggunakan teknologi sederhana = Rp 3.400.000,-

Hal ini terjadi karena petani menanam kakao secara tradisional yang tidak menerapkan teknologi tersebut bahkan produktifitas cenderung menurun, serta kualitas juga banyak terserang hama dan penyakit penggerek batang, atau PBK. Penyakit busuk akar (jamur pada akar), menyebabkan hasil tidak berpihak pada petani.Dengan demikian, teknologi tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh seluruh petani kakao di Kabupaten Kulon Progo.

KESIMPULAN DAN SARAN
Pemangkasan, pemupukan, pengaturan pohon pelindung yang tepat dan pembuatan rorak, pengendalian hama dan penyakit, perlu diperhatikan dalam usaha tani kakao. Walaupun pekerjaan tersebut meningkatkan biaya, namun keuntungannya diperoleh petani cukup besar, dibanding tidak melakukan teknologi sederhana tersebut.
Umumnya petani keberatan untuk memangkas tanamannya.Oleh karena itu, perlu diadakan pendampingan untuk menjelaskan kepada petani dalam pengusahaan tanaman kakao, dengan selisih pendapatan antara petani tradisional dengan yang menerapkan teknologi tersebut.Seharusnya pemerintah dengan DPRD bersama petugas lapang baik pemangku kepentingan dan lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan perhatiannya.Karena keuntungan lainnya kulit buah kakao dimanfaatkan sebagai pakan ternak tambahan dengan mengandung protein tinggi apabila dilakukan dengan fermentasi.(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta).









0 komentar:

Poskan Komentar

Translate